Emang Dasar Bajingan

Emang dasar…emang dasar… he dasar kamu bajingan, begitulah cuplikan lirik lagu yang dibawakan oleh Wali Band yg judulnya ‘emang dasar’ yang sering saya setel di komputer, terkesan memang kasar tapi ya jelas kasar terutama untuk anak kecil. Pada sinetron A di channel TV B ada seorang wanita yang memergoki suaminya selingkuh dan serta merta ditampar itu suami sambil bilang “dasar lelaki bajingan”. Pada acara infotainment seorang artis diwawancara dan ditanya apa yg paling dibenci, jawab si artis “gue nggak suka lelaki bajingan”.

Tapi apa itu bajingan? bajingan yang dimaksud contoh diatas adalah seorang lelaki yg hobinya selingkuh dan menduakan wanita. Tapi apa itu bajingan sebenarnya? seorang kusir gerobak sapi, ya itulah kenyataannya, tapi kok jadi bahan umpatan di sinetron, lagu, dsb dan mengesankan rendah sekali, padahal bajingan yg asli di sekitar Solo tidak tahu pokok permasalahannya tetap adem ayem dan pekerjaan mereka mulia jauh dari kesan berakhlak rendah. Mungkin para artis sinetron dan penyanyi itu tidak tahu apa itu bajingan sebenarnya, kalau tahu sebenarnya mungkin akan berpikir ulang mengatakan bajingan.

Kenapa kok bajingan? saya sendiri tidak tahu kapan persisnya istilah bajingan menjadi begitu rendah, perkiraan pada penjajahan belanda sering para meneer menganggap para kusir gerobak(bajingan asli) berprofesi rendah ala inlander, nah dari sini para meneer itu menyamakan anak buahnya yg tidak becus dengan bajingan. Hmmmm memang Belanda tidak hanya meninggalkan rumah, gedung2 kuno, pabrik2 gula dsb, tapi juga meninggalkan umpatan.

Mengapa kok bajingan bergeser ke lelaki hidung belang? yah namanya saja sinetron, apalagi budaya latah mulai berkembang itu dugaan saya lagi. Saya sendiri dulu waktu kecil suka ngerjain pembantu atau orang2 tua yg latah(biasanya di daerah pesisir utara), sering kata2 yg keluar mengenai alat kelamin hehehe, tapi ini latah asli nggak dibuat2. Yg saya prihatinkan kok sekarang gadis2 muda anak2 sekolahan/kampus malah sengaja dilatah-latahin, apa kalau latah terus jadi keren, tambah cantik? kan ndak to?.

Kembali ke bajingan, sebenarnya para bajingan itu sebuah pekerjaan mulia, mengapa? pertama karena mereka bekerja membantu orang lain dalam urusan transportasi, jelas halal to?. Kedua bebas polusi, karean sapi2 tidak berasap karena berbahan bakar rumput dan sayuran jadi bebas asap polusi dan satu2 nya limbah dari kotoran sapinya yg bisa dijadikan pupuk, kotoran/asap mobil mana ada yg bisa dijadikan pupuk.

Sampai saat ini saya belum pernah menemukan orang dengan nama asli bajingan, tapi saya pernah tahu orang yg namanya Cindil(bayi tikus), Sireng(kakaknya cindil), Runtah(sampah), Cepet(sejenis kutu), Penjol.Memang orang2 dulu terutama yg pendidikan rendah sering memberi nama seadanya dilihat dari bentuk bayinya pada waktu lahir, kejadian yg terjadi pada waktu bayi lahir sebagai tenger atau pepeling. Contoh namanya Daljinem lahir pada tahun Dal bulan satu tanggal enam.

Ketika saya tahu bajingan yg sebenarnya jadi agak kasihan dengan bajingan yg asli yg tidak tahu apa2, juga geli lihat pesinetron dengan polosnya mengatakan bajingan. Sebaliknya kata cewek jadi begitu “terhormat” bagi seorang perempuan, padahal cewek itu istilah lain dari cawik/cebok urutannnya kira2 dari yg terkecil ciwik, cawik, cewek, cewok, cowok.memang wolak waliking jaman yang baik dikatakan buruk, yang buruk dikatakan baik.

BAGIKAN ARTIKEL INI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *