MENILIK “BENJOLAN” PADA PENIS ARCA

Beberapa arca unik ditemukan di lereng Gunung Lawu, arca yang masuk dalam katagori masa Neolitikum tersebut berbeda dengan arca-arca pada masa klasik lain. Seorang dosen Sejarah Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono pernah menuliskan dalam makalahnya jika jaman dahulu terdapat kebiasaan orang Jawa masa kuno memperlakukan organ vitalnya dengan cara memasukkan atau menyelipkan benda asing dibawah kulit penis.

Belum puas dengan sekedar ingatan sekilas itu akhirnya ane nyamperin perpus online tadi kami mencoba untuk mencari keterangan lain. Dan pada akhirnya menemukan bahwa di Asia Tenggara dahulu ada juga sebuah upacara inisiasi menyatakan “baliq“-nya seorang laki-laki dari anak-anak menuju remaja. Tiga orang peneliti Brown, Edward dan Moore dalam “Penis Implants in Southeast Asia”, dan Tony Reid dalam “Land Beneath The Wind”. Brown et al. (1988) menemukan lima bentuk manipulasi yang dilakukan hampir di seluruh Asia Tenggara:

1. Menyisipkan bola padat di bawah kulit penis
2. Benda padat tidak bulat
3. Giring-giring
4. Peniti atau batang dimasukan melintang menembus penis
5. Peniti atau batang menembus penis untuk menahan cincin atau objek berbentuk kubah pada penis.

Menyelipkan benda di bawah kulit penis biasanya berbentuk semacam benda bulat atau tasbih. Terkadang bahan isian tebuat dari gelas, gading, batu, kulit kerang, perhiasan dan metal. Ukurannya sampai sebesar telur ayam. Peniti dan batang dapat dibuat dari kayu, tulang binatang, duri landak, tanduk, karang, bulu atau surai.

Ada yang mengatakan bahwa para saudagar Cina yang memperkenalkan praktek ini ke dalam budaya Indonesia. Yang lain menyanggah dan mengatakan bahwa ini budaya asli masyarakat setempat, dan yang dimasukan ke dalam penis adalah jimat-jimat untuk tujuan pengobatan atau spiritual.

Reid mengutip kisah perjalanan Pigafetta tahun 1524 yang memaparkan suatu alat bernama palang yang dipakai saat penis masih dalam keadaan terkulai sebelum hubungan intim, dan dilepaskan saat penis kembali lunglai setelah sanggama, sehingga pasangannya dapat melakukan “manuver” palang masuk keluar dengan aman. Penggunaan giring-giring atau bola-bola kecil dilaporkan oleh Ma Huan pada 1433 yang dilakukan di Malaya, Thailand hingga Makassar.

-Daun Kering-

BAGIKAN ARTIKEL INI
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *