Napak Tilas Jejak Perjuangan Pangeran Diponegoro di Bandut Bagian 1

Sebuah pesan pendek dari sebuah grup masuk ke handphoneku. Pesan itu berupa poster sebuah acara napak tilas perjuangan Pangeran Diponegoro di beberapa tempat meliputi Wilayah Bantul dan Sleman.  Wow! Sangat menarik! Aku lihat tanggal pelaksanaannya, dan segera ku sesuaikan jadwal kerjaku.

Aku menunggu acara semacam ini cukup lama. Sebuah acara napak tilas dari seorang pahlawan besar, yang tempat kelahiran serta jejak perjuangannya tak jauh dari tempat tinggal dan kelahiranku. Sebenarnya, ada dua pahlawan besar yang sangat ingin aku ikuti jejak napak tilasnya, yaitu Pangeran Diponegoro, dan Panglima Besar Sudirman. Sayang sekali, hingga saat ini aku belum bisa menemukan acara semacam ini untuk Panglima Besar Jendral Sudirman, dimana jejak perjuangan sangat menarik, melintasi pegunungan, pedesaan dan tempat tempat yang sangat menarik. Entahlah. Mungkin dengan tulisan ini, ada pihak yang tergerak untuk mengadakan acara napak tilas Jendral Sudirman di wilayah Yogyakarta.

Sedangkan untuk Pangeran Diponegoro, aku sangat mengaguminya karena disamping seorang bangsawan, pejuang, Beliau juga seorang ulama yang hebat, dan sangat merakyat. Perjuangannya demi rakyat dan tanah air, telah membuat kalang kabut baik dari pihak penjajah Belanda, maupun dari pihak Kraton Yogyakarta. Tidak hanya sampai di situ, akan tetapi pengaruh perjuangannya hingga menembus batas batas wilayah Jawa, baik Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat, bahkan Sumatera. Wajar jika para ahli sejarah menyebutnya sebagai Perang Jawa. Penyebutan Perang Jawa ini sendiri, sebelumnya sempat menuai beberapa perdebatan, terutama dari pihak Belanda, dimana mereka bersikukuh menyebutnya dengan Perang Diponegoro, atau bahkan Pemberontakan Diponegoro, untuk menimbulkan kesan seolah olah Perang Diponegoro hanyalah pemberontakan kecil yang dilakukan seorang pejuang rakyat Indonesia. Namun dunia internasional, yang tentu saja lebih netral dalam penilain sejarah, meyebutnya sebagai Perang Jawa.

Bagaimana tidak? Sejarah mencatat berapa besar jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh Belanda dalam meredam pergerakan laskar Diponegoro. Berapa banyak benteng benteng dibangun, setidaknya di Wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, yang hingga kini masih dapat kita saksikan wujudnya sebagai saksi sejarah untuk menghambat dan memukul mundur pergerakan Diponegoro dan laskarnya. Berapa besar pengaruh pergerakan Diponegoro dan laskarnya ke wilayah sekitar Yogyakarta. Hampir merata seluruh Pulau Jawa. Baik rakyat jelata maupun  kalangan bangsawan dan ulama, turut serta bergerak melawan penjajah. Wajar kiranya jika Perang Diponegoro mendapat gelar  sebagai Perang Jawa. Perang besar yang melibatkan jumlah laskar terbesar, dari berbagai kalangan, berbagai wilayah, dan menguras tenaga, pikiran dan keungan dari penjajah Belanda.

Nah,acara napak tilas ini sangat tepat untuk mengetahui lebih dalam tentang perjuangan Pangeran Diponegoro. Baik dari lokasi,  rute perjalanan,  yang  semua itu diambil dari sebuah catatan  yang  dibuat sendiri oleh Beliau. Sungguh sangat menarik.

Tiba di hari dan tanggal yang ditentukan, aku sengaja bangun pagi dan segera mempersiapkan segala sesuatu. Aku tak ingin terlambat untuk berkumpul dulu di tempat yang ditentukan. Segera kupacu sepeda motorku menuju titik kumpul. Tepat jam 8.00 pagi kutiba di lokasikumpul. Di sana terlihat sudah berkerumun orang orang yang akan turut serta dalama cara ini. Terhitung sekitar 30 an orang telah siap. Mereka duduk duduk sambil berbincang satu sama lain, dengan manikmati minuman hangat yang ada.

Tanpa basa basi aku segera bergabung dan mengenalkan diri ke hampir semua peserta  yang telah hadir.  Mereka dari berbagai kalangan yang mempunyai ketertarikan yang sama denganku. Dari pelajar, mahasiswa, pemerhatisejarah, seniman, dan dari keturunan Pangeran Diponegoro tentu saja. Mereka sangat antusias untuk mengikuti acara yang jarang terjadi ini.

Ku sulut rokokku sambil pesan teh panas. Pagi yang cukup dingin ini sangat pas ditaklukkan dengan teh panas dan sebatang rokok. Beberapa saat menunggu sambil berbincang bincang hangat tentang Diponegoro,  sepanjang  yang  masing masing ketahui, dari perbincangan itu justru saling manambah informasi dan melengkapi,  terutama untuk hal hal yang untold story.

Masih larut dalam bincang bincang, tiba tiba salah satu panitia berdiri dan mengumpulkan para peserta untuk diadakan briefing dan perkenalan beberapa peserta dan panitia, serta gambaran awal tentang lokasi lokasi  yang  akandi kunjungi.  Setidaknya ada kurang lebih  7  titik lokasi  yang  akan di kunjungi,  meliputi 2  kabupaten yaitu Bantul dan Sleman.  Namun 7 titik itu tentu saja tidak mengikat,  mengingat napak tilas ini adalah kegiatan sejarah  yang  mungkin akan bertemu dengan perangkat desa  di  lokasi  yang  bersangkutan,  sehingga mungkin waktu  yang  diperkirakan dapat saja meleset dari  yang  sudah terjadwalkan. Titik kumpil  yang berada  di tepat pinggir Jalan Yogyakarta – Kulon Progo itu ternyata sangat dekat dengan lokasi pertama yang akan dikunjungi,  yaitu Desa Bandut,  Argorejo,  Sedayu,  Bantul. Hanya terpaut persawahan  yang  cukup luas dan subur,  serta dua desa  yang  berada  di kaki  pegunungan. Sebenarnya aku sering melewati jalan di desa yang akan kami kunjungi tersebut. Namun karena aku tak mempunyai informasi sedikit pun tentang sejatah Diponegoro di sisni, aku pun hanya bisa geleng geleng kepala,  sambil mengeluh dalam hati. Betapa picik dan dangkalnya

pengetahuanku. Lokasi yang sangat bersejarah dalam perjuangan pahlawan besar demi kemerdekaan negeri ini, dan sangat dekat dengan tempat tinggalku, aku justru tak mengetahuinya. Memalukan!!!

Rombongan peserta bersiap siap dengan sepeda motor masing masing, dengan dipandu oleh panitia. Setelah semuanya lengkap dan siap, segera berangkat menuju lokasi pertama, Desa Bandut.Argorejo Sedayu Bantul. Terbersit rasa bangga saat aku berjalan beriirngan dengan para peserta lainnya, melewati hamparan hijaunya sawah. Seolah kamilah laskar Diponegoro yang tersisa. Tidak banyak, namun cukup militan. Hanya dengan modal tekad dan kecintaan kami kepada Beliau dan tanah tumpah darah ini. Tak ada penyandang dana ataupun sponsor dalam acara ini. Semua murni dari masing masing peserta sendiri.

Melewati dua desa, kami tiba di Desa Bandut. Rupanya panitia sudah berkoordinasi dengan perangkat desa tersebut. Kami menuju rumah Pak Dukuh, dan diterima dengan sangat baik. Semua sepeda motor masuk ke pakarangan yang cukup luas. Setelah itu kami, diwakili oleh panitia tentu saja, mengenalkan diri dan memohon ijin untuk napak tilas di desa ini. Pak Dukuh dengan antusias menerimanya, bahkan ikut turut serta mendampingi sebagai tokoh masyarakat sekaligus menceritakan sejarah asal muasal dari petilasan yang ada di desa ini, langsung dari sumbernya yaitu masyarakat desa setempat.

Tak lama kemudian rombonganpun berangkat lagi menuju loksi petilasan Pangeran Diponegoro, dengan berjalan kaki. Aku yang berada jauh di luar pekarangan saat perkenalan dengan Pak Dukuh, tak mengetahui dengan pasti ke arah mana tujuan ini. Yang ku tahu adalah kami akan pergi ke sebuah lokasi petilasan Pangeran Diponegoro saat berjuang di desa ini. Dan itu sudah cukup bagiku. Ku ikuti saja kemana mereka berjalan.

Dari rumah Pak Dukuh kami berjalan kaki memasuki desa. Melewati jalan jalan kecil di tengah desa. Desa ini rupanya masih terjaga lingkungannya. Terlihat kebun kebun dengan pepohonan yang cukup banyak, dan di kiri kanan jalan yang kami lewati, terdapat pohon pohon serta rumput rumput pembatas jalan. Sangat sejuk. Iklim khas desa. Tanah yang masih basah karena sinar matahari tak mampu menembus rapatnya daun daun pepohonan, membuat udara dingin sejuk tetap bersih.
bersambung…..

BAGIKAN ARTIKEL INI
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *