Napak Tilas Jejak Perjuangan Pangeran Diponegoro di Bandut Bagian 2

Kami berjalan berkelak kelok melewati gang gang kecil. Cukup sulit jika tak ada pemandu jalan. Bahkan seorang peserta yang mengenakan baju tradisional jawa, sorjan lengkap dengan kain iket di kepalanya, harus mengelurakan buku catatan, dan mencatat setiap belokan yang ada dan menggambarkannya menjadi semacan denah agar mempermudahkannya jika suatu saat ingin berkunjung ke lokasi keramat ini.

Aku tak tega melihatnya duduk di pinggir jalan dan menggambar di buku catatannya. Aku berhenti disampingnya disertai seorang kawan. Rupanya dia tahu kalau aku dan temanku menemaninya barang sebentar. Raut mukanya terlihat sedikit lega karena tak mungkin dia akan ketinggalan. Aku tertawa. Demikian juga dengan temanku. Tertawa melihat ekspresi wajahnya yang kembali tenang dan diapun tertawa lega pula.

Keisenganku dan temanku timbul. Aku ambil kamera dan merekamnya, temanku langsung duduk disebelahnya, melihat catatan apa yang sedang dibuatnya. Cekrak cekrek beberapa pose ku ambil. Ramah tamah dan perbincanganpun terjadi. Saling bertegur sapa dan mengenalkan diri nama dan dari mana berasal. Ternyata dia adalah tetangga desa dari temanku, dan kamipin jalan bertiga, di ujung terakhir dari rombongan.

“Ku pikir dia mencatat apa gitu….” gumam temanku saat kami berdua berjalan di depannya selang jarak beberapa langkah.

“Lho memangnya mencatat apa?” aku bertanya heran.

“Belokan!” jawab temanku sambil menahan tawa. Justru aku yang tertawa meledak ledak kemudian.

“Belokan???” tanyaku seolah tak percaya. “Buat apa?”

“Katanya agar tak lupa jika mau kesini lagi. Dia bertanya sudah berapa belokan kita ini…”temanku meneruskan ceritanya. Aku diam menunggu dia meneruskan ceritanya.

“Ku jawab saja ada dua belokan. Ke kiri dan ke kanan!” katanya sambil tertawa lepas. Akupun tak mampu menahan tawa, hingga kita berdua tertawa terbahak bahak di jalan.

Rupanya dia tahu kami menertawakannya. Dia berlari menyusul kami berdua sambil tertawa tawa juga.

“Iya Mas…. ku catat belokannya, biar tak lupa. Habis banyak sih dan susah…” katanya sambil tertawa tanpa beban. Dalam hati aku salut padanya. Mengatasi kesulitan tanpa malu malu bertanya. Di usianya yang masih muda, mengenakan baju sorjan jawa dengan ikat kepalanya, membawa buku catatan untuk menampung ilmu pengetahuan yang pasti didapatnya, dan mau mengikuti acara napak tilas perjuangan pahlawan negara. Tidak banyak orang semacam dia. Mudah mudahan apa yang didapatnya menjadi ilmu yang bermanfaat untuknya dan untuk lingkungannya. Semakin lama perjalanan kami semakin melewati jalan jalan sempit dan penuh pepohonan di kanan dan kiri jalan yang semakin menurun. Udara terasa semakin dingin dan rumpun rumpun pohon

bambu semakin rapat. Membuat suasana semakin gelap. Tibalah kami di sebuah jalan kecil basah menuju sungai. Di tengah jalan nampak tiga orang dari panitia berhenti dan menunjukkan arah belok ke kiri melewati kebun, ke lokasi yang dituju. Aku mengikutinya, namun aku lurus saja mengikuti jalan kecil menuju sungai itu bersama temanku, karena di ujung jalan, terlihat olehku sebuah pohon besar di atas tanah yang lebih tinggi dari jalan itu. Sangat menarik. Ada sesuatu tersembunyi disana.

Ternyata perasaanku benar. Hal itu juga dikuatkan oleh perasaan yang sama dari temanku, yang lebih menguasai tentang pengetahuan metafisik. Ujung jalan itu ternyata menuju sebuah sungai. Beberapa meter sebelum sungai, terdapat sebuah sumber mata air (sendang, jawa), tepat di bawah pohon beringin yang sangat besar. Dan tepat di sebelah timur dari pohon beringin itu adaah sebuah makam tua.

Di sungai itu, entah mengapa, aku sama sekali tak ingin mendekat. Aku hanya melihat dari dekat sendang tersebut, yang di bagian temboknya tertulis “Sendang Pengasih”, atau “Pengasihan” aku tak begitu memperhatikan  dan di bagian atas dinding tembok sendang tersebut dihiasi bentuk ular naga sepasang, dengan posisi saling membelakangi. Menurutku, ini adalah sebuah lambang. Tak mungkin di tempat semacam ini, dibuatkan semacam arca ular naga sepasang, jika tak mempunyai arti dan makna khusus dibalik semua ini. Bulu kudukku meremang.

Terasa beberapa makhluk turut serta bersama aku dan temanku di tempat itu. Namun dari getaran dan gesekan yang cukup lembut, serta tujuan kami yang sama sekali tak berbuat aneh aneh, murni karena kami napak tilas jejak leluhur dan melestarikan semua yang ada, maka semuanya berjalan dengan baik di sendang itu.

Setelah kami puas di sendang, aku memperhatikan keadaan sekeliling, dan membandingkan dengan beberapa tempat dengan ciri ciri kurang lebih sama seperti ini, dan biasanya di tempat seperti ini ditemukan batuan candi atau bahkan arca jaman purbakala. Aku dan temankupun berkeliling, hingga ke atas, di lokasi makam tua. Namun kami tak menemukan batuam candi atau arca disana.

“Mungkin di tempat lain yang tak jauh dari sini…” kataku dalam hati. Rupanya temanku berpikiran yang sama.

“Mungkin disekitar sini ada bebatuan candi atau semacamnya.” Kata temanku tiba tiba.

“Mungkin saja. Ayo bergabung dengan yang lain. Katanya mereka berada tepat di lokasi petilasan Kyai Santri, salah satu laskar Diponegoro yang disegani, dan Pangeran Diponegoropu juga pernah ke lokasi itu.” Kataku sambil menuju peserta lain berkumpul.

“Benar. Aku juga sangat penasaran dengan sejarah itu. Jauh jauh aku datang dari Jakarta demi mengikuti napak tilas ini. Sangat menantang dan bermanfaat bagi anak anakku nanti.” Temanku menyusulku dari belakang.

Kami berdua segera memasuki kebun tempat rombongan telah berkumpul di titik tepatnya lokasi langgar atau mushola yang didirikan oleh Pangeran Diponegoro dan Kyai Santri serta pengikutnya. Mereka berdiri melingkar, dengan seorang pemandu dari panitia berdiri di tengah, dengan membawa sebuah buku tebal berwarna oranye, yang pada saat berkumpul di lokasi keberangkatan aku sempat membaca judul bukunya, yaitu Babad Diponegoro. Aku sempat pula membuka beberapa halaman, dan di dalamnya terdapat tulisan dengan mesik ketik manual, berbahasa jawa kromo halus1.dan di tulis dengan sangat rapi semacam puisi dengan format berbait-bait. Apa yang ada di buku itu adalah tulisan tangan asli dari Pangeran Diponegoro.

Sekali lagi aku merasa takjub. Kekagumanku terhadap Pangeran Diponegoro semakin meluap luap. Di tengah tengah perjuangannya, demi rakyat dan tanah tumpah darah, intrik keluarga, sengketa dari berbagai pihak, mengumpulkan serta menyusun barisan, strategi perang, dan melakukan peperangan itu sendiri dengan cara berpindah pindah dan bergerilya, Beliau masih menyempatkan diri untuk membuat sebuah catatan perjalanan perjuangan. Apa yang dialami dan dilakukan baik oleh Pangeran Diponegoro maupun sahabat serperti Sentot, Kyai Santri,  serta laskar laskarnya. Rupanya, Beliau sangat sadar bahwa sebuah peristiwa, kejadian, perjalanan dan momentum wajib untuk ditulis. Tidak cukup hanya diingat. Karena ingatan manusia sangatlah terbatas. Namun dalam bentuk tulisan, akan abadi di sepanjang jaman. Seperi Babad Diponegoro ini. Kejadian yang telah lampau sejak tahun 1825, kini bisa dinikmati dan diteladani hingga tahun 2019. 194 tahun. Hampir 2 abad, dan kami semua, masih bisa menikmati dan mengetahui sejarah perjuangan Beliau, langsung dari tangannya sendiri. Seorang pahlawan yang benar benar visioner.

Dalam babad itu sempat terdengar olehku pembacaan Babad Diponegoro yang menunjuk pada kejadian di lokasi tersebut, yang kurang lebih menurut pendengaranku adalah ;

“……sampun enjing iko nanging wonten mareman nira Yang Widhy pedut ageng prapto iku ngalingi mring Njeng Sultan sak wadyanya. Kafir murtad tan ana weruh yen Njeng Sultan sampun budhal saking Bandut sak wadya…..”2.

  1. Kromo Halus adalah tingkatan dalam berbahasa jawa yang digunakan terhadap orang yang lebih tua atau dihormati atau baru kita kenal. Di budaya Jawa, ada 3 tingkatan bahasa dalam tata pergaulan yaitu Kromo Ngoko (tingkat paling rendah digunakan terhadap sesama pada umumnya), Kromo Madya (tingkat lebih tinggi digunakan terhadap orang yang lebih tua), dan Kromo Halus/Inggil seperti diatas.
  2. Hari sudah pagi namun berkat pertolongan Tuhan, datang kabut tebal yang melindungi Kanjeng Sultan (Diponegoro) dan pasukannya. Hingga Pasukan Belanda tak dapat mengetaui bahwa Diponegoro dan pasukannya telah pergi meninggalkan lokasi tersebut

Bersambung……………….

BAGIKAN ARTIKEL INI
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *