NAPAK TILAS Napak Tilas Jejak Perjuangan Pangeran Diponegoro di Bandut Bagian 3

Kemudian diteruskan dengan penerjemahan serta peristiwa yang terjadi dalam tulisan itu ke dalam Bahasa Indonesia yang mengungkapkan bahwa pada malam hari sebelumnya, Pangeran Diponegoro beserta laskarnya yang terbagi dalam tiga kelompok, sedang berada di tempat itu untuk berembug tentang langgar yang dibangun, dan akan meneruskan perjalanan ke Desa Kasuran di Wilayah Kasuran, Seyegan, Sleman. Pada  saat pagi hari, setelah waktu subuh, tiba tiba datang serangan Belanda di tempat itu. Pangeran Diponegoro beserta laskarnya tentu saja dalam keadaan lengah. Pangeran Diponegoro memohon pertolongan Tuhan, dan terjadi keajaiban kemudian. Tiba tiba datang kabut tebal menyelimuti, hingga tak nampak pergerakan dari Pangeran Diponegoro dan laskarnya, yang telah pergi saat kabut tebal itu datang. Pasukan Belanda pun tak menjumpai seorangpun di sana setelah kabut tebal itu hilang.

Menurut beberapa cerita rakyat, perjuangan Pangeran Diponegoro memang sering terjadi keajaiban semacam itu. Hal ini wajar karena di samping seorang bangsawan, seorang darah biru yang tentu saja mempunyai beberapa kelebihan,  Beliau juga seorang ulama yang taat, yang kesehariannya selalu diisi dengan ibadah, amalan serta perilaku utama.

Disamping itu, mungkin lokasi ini sendiri menyimpan sejuta misteri. Hanya berjatak beberapa meter dari lokasi langgar itu terdapat sebuah sumber mata air tua, sumber mata air asli yang mungkin keberadaannya lebih tua dari langgar yang lebih terkenal dengan sebutan Kyai Santri ini. Dan dari sumber mata air tua itu, ke arah barat terpaut sekitar 10 meter, adalah Sungai Konteng. Sungai Konteng ini bagi kalangan metafisik dan supranatural di wilayah Yogyakarta, sudah sangat terkenal akan kemistisannya. Baik dari hulu maupun hingga hilir.

Sedangkan Konteng sendiri adalah nama sebuah desa di wilayah Kelurahan Sumberadi, Mlati Sleman, berjarak sekitar 18 kilometer ke arah utara dari Desa Bandut. Sungai Konteng ini mengalir tepat di samping Desa Konteng. Di Desa Konteng itu sendiri, pada beberapa tahun yang lalu pernah ditemukan situs candi, baik berbentuk arca maupun batuan batuan candi lainnya. Dari penelusuranku dan beberapa orang teman, ternyata sepanjang Sungai Konteng, dengan radius yang cukup dekat di kiri kanan sungai, ditemukan beberapa batuan  batuan candi. Mungkin, bisa saja terjadi bahwa sungai ini merupakan sungai purba yang sudah ada sejak jaman dahulu kala, dan di sepanjang sungai ini terdapat sebuah kehidupan jaman kerajaan yang jika melihat dari temuan temuan batuan candi dan arca, diperkirakan merupakan kehidupan pada jaman kerajaan Hindu Budha.

Hari sudah pagi namun berkat pertolongan Tuhan, datang kabut tebal yang melindungi Kanjeng Sultan (Diponegoro) dan pasukannya. Hingga Pasukan Belanda tak dapat mengetaui bahwa Diponegoro dan pasukannya telah pergi meninggalkan lokasi tersebut.

Nah, di Desa Bandut, tepatnya adalah di lokasi langgar Kyai Santri ini, suasana dan ciri cirinya sama persis dengan dengan beberapa tempat di sepanjang Sungai Konteng. Makam tua dan  sumber mata air adalah salah satu indikasi yang menurut penelusuranku adalah adanya sebuah kehidupan di masa yang jauh ke belakang.

Faktor pendukung lain dari kejadian keajaiban sekaligus kelebihan dari Pangeran Diponegoro adalah, di beberapa tempat yang pernah disinggahi oleh Beliau, disekitarnya terdapat bebatuan candi, seperti lingga yoni misalnya. Hal ini aku jumpai di beberapa tempat, termasuk di Museum Diponegoro sendiri, di Tegalrejo Yogyakarta, dan markas persembunyian Beliau di Gua Selarong, Bantul. Ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah lingga yoni tersebut ditemukan dan kemudian dibawa di sekitar tempat persinggahan Beliau. Dan kemungkinan kedua adalah bebatuan candi tersebut memang sudah berada di tempat itu jauh sebelum kedatangan Pangeran Diponegoro. Dari dua kemungkinan itu, sampai saat ini tak terungkap.

Sedangkan di Bandut ini, mungkin tak banyak orang yang mengetahui, atau tak mengaitkan antara petilasan Diponegoro disini, dan beberapa batuan candi ataupun arca yang ada di sekitar tempat ini juga.

Sesaat setelah aku ikut berkumpul dan mendengarkan cerita dari Babad Diponegoro dan melihat langsung lokasi sumber mata air purba di sebelah langgar itu, aku mendahului langkahku untuk meninggalkan tempat itu sendirian. Bukan karena bosan atau lelah. Namun saat ku melihat sumber mata air purba itu, aku merasakan sebuah kekuatan yang menurutku sangat besar, yang membuatku seketika berdiri diam dan sama sekali tak mampu untuk mendekat. Buluk kudukku berdiri, dan seluruh tubuhku bergetar, meremang. Terlintas di benakku sebuah makhluk berwarna hijau dengan bintik bintik hitam, mata yang menyala tajam, serta tubuhnya yang besar dan panjang, melingkar lingkar menutupi sumber air itu. Aku sapa dan hormat padanya. Kemudian aku mampu untuk mengambil kamera dan mendokumentasikan sumber itu dari kejauhan. Entahlah….. aku benar benar tak mampu untuk mendekatinya. Setelah diijinkan untuk mengambil gambar, aku pun berpamitan. Itulah mengapa aku pergi meninggalkan rombongan di tempat itu untuk menuju rumah Pak Dukuh tempat kami datang. Bahkan temanku kubiarkan tetap bergabung bersama peserta yang lain.

Setelah berjalan berkelok kelok, aku menjumpai rumah penduduk. Sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas dengan rumah joglo di bagian depan, membuatku berhenti dan mendekatinya. Aku memang suka sekali dengan bangunan rumah khas jawa seperti itu. Rupanya pintu dari rumah ini terbuka. Ku beranikan diri untuk mendekat dan memberinya salam. “Kulonuwun….” suaraku sengaja ku keraskan, agar terdengar hingga dalam rumah. Tak ada jawaban. Aku ulangi lagi beberapa kali, lirih ku dengar suara tapak kaki menyentuh lantai. Aku

lega. tampak dari pintu itu seorang kakek dengan senyum khas desa, melihatku berdiri dengan kedua tanganku ku letakkan di bawah perut dengan tangan kiriku memegangi tangan kananku. Sikap hormat dan sopan santun terhadap orang tua atau yang pernah diajarkan ayah dan ibuku dahulu. Dalam budaya jawa, sikap seperti disebut sebagai sikap ngapurancang.1.

Dengan ramah kakek itu mempersilahkan aku untuk duduk, dan tanpa basa basi, percakapan hangatpun terjadi. Aku asli desa, pergaulanku juga dengan orang desa, dari keluarga petani, dimana aku sangat akrab dengan pekerjaan dan pergaulan petani desa baik dengan pakde, mbokde, mbah kakung, mbah putri, mbah buyut dan seterusnya. Sangat mudah menyesuaikan diriku terhadapnya. Apalagi aku cukup menguasai bahasa jawa halus, walaupun jauh dari sempurna, namun cukup untuk tata pergaulan dan sebagai bentuk penghormatan berbicara pada orang tua.

Saat kami berbincang tentang siapa aku dan apa yang akun lakukan disini, dari belakang menyusul nenek nenek dan bergabung dengan kami berdua. Mengetahui bahwa aku menikuti napak tilas ini, pembicaraan kamipun kemudian berkutat tentang lokasi Langgar Kyai Santri itu. Sejarahnya, sungainya, sendangnya, dan tentu saja, cerita mistis yang selalu saja ada. Aku pun kemudian mencoba mencari kebenaran tentang Diponegoro dan situs purbakala yang biasanya ada di sekitarnya.

“Oh…… ada Ngger…..”2. nenek itu menjawab pertanyaanku. Bagai matahari di siang bolong, raut mukaku menjadi sangat cerah.

“Benarkah? Apa itu Nek?” aku penasaran.

“Reco wong lungguh….”3. jawab Nenek itu yakin.

“Di mana Nek? Masih ada?” aku seperti harimau lapar memburu seekor rusa.

“Sini Nenek antar ke lokasi arcanya. Seharusnya masih ada di sana…” jawab Nenek sambil berjalan dan menunjukkan suatu arah. Aku mengikutinya dari belakang.

Sampai di lokasi yang dituju, aku hampir saja berteriak kegirangan. Sebuah arca ganesha, berada di halaman penduduk, hanya terpaut sekitar 100 meter dari Langgar Kyai Santri. Arca ganesha itu tanpa kepala, dengan posisi duduk, dua tangan terlihat seperti memegang sesuatu namun sudah tak

berbentuk karena patah. Demikian juga dengan kepala arca itu. Patah dan hilang entah kemana. Sedangkan dari Langgar Kyai Santri itu, berjarak sekitar 1 kilometer ke arah barat, ditemukan sebuah batu yoni berukuran cukup besar, serta arca nandi, dan artefik. Semakin kuat teori ku bahwa dimana ada jejak Pangeran Diponegoro, disitu terdapat pula jejak kerajaan jaman purbakala. Pertanyannya adalah, mengapa????

Hingga kini masih menjadi misteri, yang layak untuk diexplorasi, untuk menemukan keterkaitan diantara keduanya nanti, demi merawat sejarah, negeri dan bumi.

  1. Sikap adalah sikap berdiri dimana tangan berada di bawah pusar, kaki direnggangkan, tangan kanan dipegang oleh tangan kiri , santai dan penuh rasa hormat.
  2. Sapaan untuk anak yang jauh lebih muda baik umur maupun pengalamannya.
  3. Arca berbentuk manusia dengan posisi duduk.

Tamat…..

BAGIKAN ARTIKEL INI
error

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *